Pages

Senin, 09 Juni 2014

Bintang Kecil


Bintang Kecil



Namun aku tak akan hinggap di hatinya, meski liukan itu telah menelusup ke penjuru terdalam yang kupunya. Ia terlalu indah, itulah yang membuatku gentar sekaligus ngeri. Maka cukuplah saja dengan begini, dari kejauhan aku meresapi, menghayati. Kilaunya yang menghampar, pesonanya yang memancar. Ia serupa langit, tinggi tak terperi, terlampau berjarak dari bumi. Maka cukuplah saja dengan begini, aku menjadi bintang kecil, setitik mungil yang tidak perlu ia toleh, apalagi datangi. Begitu berjuta bintang di sana, di dekatnya, mengerjapkan benderang yang amat sakti. Jadi tidak usah aku, noktah yang bahkan tak memiliki sama sekali cahaya.

Lupakan, ini tidaklah penting. Atau jikalau memang ini bermakna, tetap aku bukan siapa-siapa. Hanya si kecil. Si mungil. Bintang yang tidak patut disebut sebagai bintang. Engkaulah langit yang sejati, tinggi tak terperi, terlampau berjarak dari bumi. Engkaulah indah yang sejati. Terlalu indah, membuatku gentar sekaligus ngeri. Maka cukuplah saja dengan begini. Pandangku meresapi. Menghayati. Mencintaimu hingga mati.

Dari sini.
*Catatan 04 Juli 2011.

Dari Engkau, Dari Kamu


Dari Engkau, Dari Kamu


Ada yang seperti tidak terpenuhi pada batinku, entah apa. Dan seperti ada pula yang memilu di sebelah bagiannya. Barangkali aku merindu, entah pada siapa. 

Malam. Bintang. Bulan. Bahkan kini tak bisa kutatapi semuanya dengan sempurna, dengan perasaan menikmati, meresapi. Aku seolah makhluk tawar. Tertawa pun pastinya palsu, sebagaimana aku tersenyum. Ada yang janggal pada hidupku, entah kenapa. Dan seperti ada pula yang menghampa di separuh bagiannya. Barangkali aku mencinta, entah untuk apa.

Yang kupahami hanyalah mata yang terus-menerus ingin nanar. Juga desakan itu. Yang menekan dadaku tak ubahnya godam raksasa. Aku terimpit, terjepit, namun senantiasa aku menahannya. Menanggulanginya. Menyembunyikannya. Dari mereka yang satu atap denganku, dari mereka yang berpapasan denganku, dari angin tipis yang mendesis, dari malam, bintang, bulan.


Terutama dari engkau.

Bisakah engkau tahu, bahwa mungkin yang kurindu adalah kamu? Bisakah engkau mendengar bisik rasaku? Bisakah engkau peka, jika ternyata yang kucinta cumalah kamu saja? Bisakah engkau menyadarinya?


Tidak perlu dijawab, aku telah mengerti. Dan semoga bukan kamu. Bukan engkau. Yang aku rindu, yang aku cinta. Semoga aku keliru. Karena terlalu banyak sosok yang berkelebat dan mengusik, terlalu banyak yang istimewa dan menjadikan aku teringat-ingat, terlalu banyak yang esok datang lagi lalu memancarkan pesona lagi.

Tapi semoga bukan kamu, bukan engkau lagi. Karena aku tahu ada beragam manusia yang bisa merindumu, mencintamu, rela menghimpun waktu berjam-jam hanya untuk merenungkanmu, mendambamu, memujamu dalam nyata namun tanpa kata. Cuma diam, sambil sesekali terpejam. Dan dalam kelam ada kamu atau engkau yang hadir rupawan, mengulurkan tangan tanpa digelayuti beban, kemudian disambut dengan anggukan.

Kamu atau engkau adalah idola, tempat merindu, mencinta. Namun dunia melarangku untuk buta, dan aku mengerti, cukup sekali ini saja aku mengulanginya, karena bila ada yang ketiga, keempat, bahkan kelima... aku tak akan sanggup menahannya, menanggulanginya, menyembunyikannya.

Desakan itu. 

Dari mereka yang satu atap denganku, dari mereka yang berpapasan denganku, dari angin tipis yang mendesis, dari malam, bintang, bulan.

Terutama dari kamu, dari engkau.


*Catatan 04 Juli 2011.

Tentang Telaga


Tentang Telaga  












Telaga itu sedemikian menjanjikan. Riaknya setenang alunan tembang nirwana. Sejuknya mampu menggerus kerontang gurun. Namun ia, selalu, menjadikan aku tertegun.
                        
Jangan tanya, terlebih tentang telaga itu. Dan tidak ada yang tahu betapa batinku seperti tercabik tiap kali harus memaparkan kesejatiannya. Tanya yang kudengar laksana lesatan anak panah beracun yang mengincar gumpal jantung, tapi jawab yang kulafaskan melebihi hujaman panah apa pun. Menghabisi, membunuh keji.

Cukup. Aku ingin berbalik dan meninggalkan telaga itu, membiarkannya menatap mesra arakan mega putih di langit biru, membiarkannya disentuh sapuan angin yang hadir menderu. Aku ingin pergi, lari, namun ia terus memintaku untuk menunggu. Menabahkan diri sejenak lagi, dan ia berjanji untuk menghampiri.

Telaga... aku mengerti engkau berkasta. Tapi mengertikah engkau bahwa aku memiliki lelah, lemah, dan juga jengah? Penantian ini terlanjur mengundang rasa hampa. Aku tak mau nanti terbuta, dan tak sanggup paham bahwa bukan hanya engkau satu-satunya telaga yang bertahta.

Cukup. Aku ini manusia. Bukan awan yang bisa bercinta denganmu tanpa tujuan apa-apa, bukan pula angin yang bisa membelaimu tanpa mengeluhkan apa-apa. Aku punya cita, dan untuk itu aku harus pergi, lari. Tidak menunggu lagi.

"Sabar...," bisikmu, "mungkin secepatnya."

Tidak. Aku cuma ingin hari ini, saat ini, di detik yang ini. Dan bila engkau tak juga menghampiri, izinkan aku kembali. Ke sungai itu, yang meski keruh dan seolah tak berujung, tiada akan ia berdusta. Sebatas memicuku untuk teguh berupaya, mengarungi tanpa jiwa hilang asa. Dan aku pun tahu ia tidak pernah berjanji, tapi memberi, seandainya tapakku terhantar nanti.

Telaga... aku cuma ingin sekarang ini. Sebelum airmu terpercik ke tubuhku dan membakar bagai api. Menghabisi, membunuh keji. Sama halnya dengan jawab tentangmu yang harus kuurai hingga selesai. Kau... yang bergolak dan mengintimidasi, menjadikan aku selalu tersaput ngeri.


*Catatan 04 Juli 2011.

Lelaki Renta, Gelondong Kayu, dan Sampan


Lelaki Renta, Gelondong Kayu, 
dan Sampan


Pada sebuah sinetron yang iseng saya saksikan setahun lalu, saya mendengar seonggok kisah yang dituturkan pemain utamanya. Katanya, di masa silam, ada seorang lelaki renta yang hanyut terbawa arus sungai. Berhari-hari lelaki itu terapung di perairan dengan nasib berada di antara hidup dan mati.


Suatu ketika segelondong kayu mendatangi tubuhnya yang lemas dan layu. Akal warasnya berbisik bahwa kayu itu dapat menyelamatkannya jika ia beringsut menaikinya. Namun hatinya membantah, menolak, menganggap kayu itu cuma benda tak berarti, benda rapuh yang bisa saja hancur di tengah jalan. Jelas itu bukan pertolongan. Dan ia berkeyakinan bahwa Tuhan niscaya akan menurunkan pertolongan yang sejati. Ia hanya harus berdoa, tanpa lelah.

Gelondong kayu itu pun berlalu begitu saja, dilewatkan dengan sengaja.

Selanjutnya datanglah sebuah sampan nelayan yang cuma mampu dimuati dua orang. Sang nelayan dengan sigap mengulurkan tangannya kepada si lelaki tak berdaya itu, hendak menaikkannya ke dalam sampan. Akal waras lelaki tersebut berbisik agar ia setuju, menerima, agar ia terentas dari jurang petaka yang menganga sedemikian lebar. Namun lagi-lagi, kali ini, hatinya membantah, menolak, menganggap sampan itu terlalu sempit juga ringsek dan bisa saja bocor lalu tenggelam di tengah jalan. Jelas itu bukan pertolongan. Dan kembali, ia berkeyakinan bahwa Tuhan niscaya akan menurunkan pertolongan yang sejati. Ia hanya harus berdoa, tanpa jengah.

Sampan mungil itu pun pergi, dan nelayan yang mengendarainya heran tak terperi.

Lantas sepi, hening. Lelaki renta tadi terus terambang dipermainkan gelombang sungai, tak lagi ada yang menghampirinya. Tetapi ia tak patah arang. Ekspektasinya terus membumbung dan merubung wajahnya yang kian pasi, bibirnya yang membiru, tenaganya yang nyaris tak bersisa. Lelaki itu masih terus percaya bahwa Tuhan akan mengirimkan pertolongan semacam perahu besar, atau penyu raksasa yang dapat menghantarkannya ke tepi sungai.

Namun tidak. Tak lagi ada yang muncul, sama sekali, meski lelaki itu setia menanti. Sungai tetap sepi, hening. Hanya deruan maut yang kemudian menggelegar di sana, kehadiran ajal yang mendamparkannya ke alam baru: kematian yang tak pernah ia mau.

Nyawa lelaki itu tercatut sia-sia, tanpa antisipasi, prediksi, dan ia tidak terima. Lantas dicuatkannya sejumlah ptotes kala ia sampai di hadapan Tuhan, tentang kenapa Tuhan tidak juga menolongnya padahal ia percaya, kenapa Tuhan tidak menolongnya padahal ia sangat berasa, dan kenapa Tuhan tidak menolongnya padahal ia tak putus berdoa.

Tuhan menjawab: aku telah mengalirkan berulang pertolongan, tapi engkau mengabaikannya.

Sontak lelaki itu tertegun. Kepalanya teringat akan gelondong kayu dan sampan mungil. Apakah pertolongan yang dimaksud adalah itu, ia bertanya.
 
Iya, Tuhan menjawab.

Dan tak pelak lelaki tersebut tertunduk, menyesal, mencap dirinya bodoh, bahkan mengutuki habis ketidakpekaannya. Harusnya ia tahu keyakinannya adalah idealisme yang malah bisa jadi belati. Harusnya ia tahu ekspektasinya terlampau tinggi dan sanggup menumbangkannya dengan keji. Harusnya ia tahu doa-doanya cuma akan jadi angin tipis tak bermakna karena sebetulnya Tuhan telah menyimak, bertindak, namun ia buta dan tidak peduli.

Harusnya ia tahu perahu besar tak akan pernah menyusuri sungai itu, dan penyu raksasa adalah hewan ajaib yang terjelma di ranah dongeng semata.

Harusnya ia masih hidup, andai ia mengambil kesempatan-kesempatan yang berdenyut, dan bukan menggantungkan segalanya pada agungnya harapan, kokohnya kepercayaan, serta saktinya doa-doa.

Harusnya ia tidak mati, andai ia mengerti.

**

Berkaca dari cerita di atas, beberapa bulan terakhir ini saya merenung. Secara penuh saya menyadari bahwa posisi saya sekarang persis sama dengan nelayan itu ketika terapung di bentang sungai. Entah akan bagaimana nanti, hidup atau mati.

Dan secara penuh pula saya menyadari bahwa telah beberapa kali Tuhan mencurahkan pertolongan demi pertolongan. Tak usah ditebak, karna lagi-lagi saya seperti nelayan itu, mengabaikan pertolongan yang menyapa.

Namun saya bukannya buta, apalagi tidak peduli. Saya hanya ingin mencari satu yang terbaik, satu yang paling indah, satu yang paling bermutu. Tapi dunia mempersepsikan lain, dan barangkali berserta isi-isinya. Saya dinilai terlalu pilih-pilih, menginginkan semuanya dengan sebegitu sempurna tanpa sudi menjajal apa yang tersuguh dan tersaji di depan mata.

Dulu saya menentang pendapat itu, namun tidak beberapa bulan terakhir ini, sejak saya merenung dan paham langsung: saya telah salah.

Ya, saya salah. Sebagaimana lelaki renta itu, sejauh ini pun saya bertahan karena harapan, kepercayaan, dan doa-doa. Saya terus menjejak berdiri tanpa lari karena mengandalkan hal-hal tersebut. Dan tanpa saya mengerti, sekelumit hal terluput dari perhatian saya: saya akan terus hidup, asal saya mau mencoba.

Oleh sebab itu saya bertekad mengubah paradigma saya. Berupaya menaiki gelondong kayu yang tersedia, atau menaiki sampan yang siap membawa. Karena cuma dengan begini saya tak akan mati. Karena percuma jika saya tetap menanti. Karena pertolongan megah itu tampaknya mustahil menjelma, karena saya melalaikan perolongan sederhana yang ada dan nyata. Karena saya salah. Karena mungkin Tuhan terlalu lelah.

Menolong saya.


*Catatan 02 Juli 2011.